CINTA SAJA
kalau ku ibaratkan matahari
dengan acuh kau tinggalkan langit temaram
dan jika ku ibaratkan bintang
dengan angkuh kau pamerkan kilaumu
sementara aku yang berpijak disebuah dasar yang tak bernafas
hanya bisa melambungkan angan
agar bisa lisanku berbicara
seandainya kau mendengarku
ku hanya meminta cinta saja
Shinta Khoiru Nikmah
ROSE
Seputih awan di beranda langit
Kau sibakan rambut yang menutup wajahmu
Binar wajahmu berpedar dipagut rindu
Begitu ceria engkau tertawa
Merengkuh waktu yang datang menyapa
Senyum yang tersungging di bibirmu
Menasbihkan selaksa cerita
Dan engkau semaikan pada sinar mentari
Hingga parasmu bercahaya
Di bingkai kasihmu
Kau sibakan rambut yang menutup wajahmu
Binar wajahmu berpedar dipagut rindu
Begitu ceria engkau tertawa
Merengkuh waktu yang datang menyapa
Senyum yang tersungging di bibirmu
Menasbihkan selaksa cerita
Dan engkau semaikan pada sinar mentari
Hingga parasmu bercahaya
Di bingkai kasihmu
by: Ade Afiat
KETIKA
Buih yang mengejar ombak
Perlahan menepi
Manakala musim telah menyapa
Tak mungkin kau merubah arahnya
Layaknya laju perahu menuju samudra
Muara harus kau lalui
Dan ketika kau bercermin
Rambutmu telah mulai memutih
LIRIK LANGIT
Pada langit awan mencari makna
Mengundang petir saat kabut mengandung
Diketinggian asa ku kumpulkan cahaya
Mengeja butiran kosmis pada galaksi yang dingin
by: Ade Afiat
MENJELANG
Saat malam mulai mendengkur
Ku mulai merajut mimpi
Dari patah harapan
Serta doa yang tersisa tadi siang
Ingin ku ukir mimpi
Pada senyum rembulan
Tak hanya potongan resah
Seperti yang selalu kau sugugkan
Tiap malam
Lelap........
Larut dalam bayang
by: Ade Afiat
Sinopsis Novel
Muara kasih
Judul : Muara Kasih
Penulis : Muthmainnah
Penerbit : Syaamil Cipta Media
Kota terbit : Bandung
Cetakan : V, Januari 2004
Tebal : vii + 216 halaman
Kathrin Elizabeth Kelly namaku, aku di besarkan sebagai anak angkat keluarga Kelly. Aku tinggal bersama Mom (manager perusahaan Westside) dan Dad (pengacara senior di Pitt and Kelly Law Firm) serta kedua kakak angkatku yaitu Jason (10 tahun lebih tua dariku) dan Matthew (seusia denganku). Kami tinggal di kota kecil Mandurah, 80 km dari Pert, Ibukota negara bagian Australia Barat. Sampai ketika ia mengenal Islam dan memutuskan untuk mencari ayah dan ibu kandungnya, di tanah leluhurnya, Indonesia.
Aku masuk Islam berawal dari 2 tahun yang lalu. Melalui Mitch, aku sampai di IC, Islamic Centre. Dan dengan bimbingan yang indah dari Allah, aku mengenal Islam. Sejak itu aku mangkir dari kegiatan gereja di sekolahku. Dan Aku mulai mengerti konsep hidup dalam Islam termasuk hijab.
Entah sedalam apa luka itu akan akan tertoreh dihati Mom saat ku ceritakan tentang keislamanku. Saat semua keluarga berkumpul, ku kuatkan diri untuk menetap wajah mereka. Ku kumpulkan keberanianku, “Saya sekarang muslim”. Semua terkejut, Mom tak pecaya, ia begitu terluka. Aku tak mengira kalau pengakuan keislamanku nyaris merenggut nyawa Mom.
Hari ini ku putuskan mengenakan baju panjang dan kerudung. Banyak reaksi yang ku terima. St. Paulus High School berada dibawah gereja Katolik, sekolahku ini satu-satunya sekolah Katolik yang tidak mewajibkan baju seragam.
Physical Education wajib diambil semua siswa grade 10 di Australia. Aku memilih bola basket. Aku memang senang basket. Namun saat pelajaran akan berlangsung, Mr. Rock tidak mengijinkanku mengikuti pelajarannya karena pakaian ku (training spak panjang dengan kerudung bertali). Mr. Rock melarangku mengikuti pelajarannya sampai aku merubah penampilanku. Empat pekan aku meninggalkan kelas PE. Saat kedua sahabatku tahu masalahku, mereka ikut gemes, “ini negara bebas, setiap orang boleh memilih cara yang mereka suka, mereka tidak berhak memaksamu”.
Sungguh aku kaget, mereka menggemparkan sekolah. Mereka berdemo dan mogok belajar. Suasana semakin memanas dan perjalanan hidupku akhirnya menyentuh ruang pengadilan. Sekolah memberiku cuti untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Teman-teman yang lain, Maria, Jane, Mike, Mitch bahkan beberapa muslimah dari sekolah lain turut melakukan tuntutan yang sama. Daddy membantuku di persidangan, dan yang lain tetap melakukan aksi. Setelah berhari-hari dan penuh perjuangan akhirnya kami memenangkan persidangan. Mom sudah sehat dan mengijinkanku pergi mencari orang tua kandungku.
Ternyata tidak semua berjalan dengan mudah. Pencarian Kath ternyata penuh dengan perjuangan dan berbagai kesulitan. Perlahan bus memasuki terminal Sawahlunto. Safrizal, akankah ku temukan lelaki itu? Namun pencarianku di Sawahlunto tak membuahkan hasil, tak ada jejak lelaki itu. Tapi ku dapatkan informasi tentang Ibuku yang kabarnya berada di Sumedang, Jawa Barat. Diperjalanan aku bertemu dengan Nia, seorang mahasiswi Unpad. Aku tinggal dengan Nia dan teman-temannya, dan mereka membantuku untuk menyelesaikan permasalahanku, dengan menulis dan menerbitkan artikel tentang ku di surat kabar.
Akhirnya ada dua orang pria datang dan mengaku mengenal ibu kandungku, salah satunya adalah pamanku. Mereka mengantarku ketempat ibuku. Dadaku berdebar kencang dan nafasku tertahan, wanita dihadapanku adalah ibu kandungku, tangis pun tak tertahan. Ada getir melihat kondisi disekitarku saat ini. Ibu telah menikah lagi dan mempunyai 3 orang anak dari hasil pernikahannya. Mereka sederhana. Beberapa hari ku tinggal dan berada begitu dekat dengan ibu kandungku. Namun terasa ada yang ibu sembunyikan. Hingga pada suatu hari, ibu memintaku untuk kembali ke keluarga angkatku. Ada pilu dihatiku mendengarnya, “apa benar ibu mengusirku?”.
Malam itu aku berkemas, namun sebelum pergi aku menanyakan alamat bapak, aku ingin bertemu dengannya. Ibu berusa melarangku menemui bapak, “ tak ada gunanya”. Sepertinya ada luka yang begitu mendalam dihati ibu. Tapi aku bersikeras dan akhirnya sebelum pulang, alamat bapak kudapat.
Jakarta tujuanku selanjutnya, aku ditemani oleh Ibu Irna salah satu orang dari kedubes. Pasar Senen, tempat tujuan kami. Aku menanyakan keberadaan bapak pada beberapa orang yang ku jumpai. Akhirnya ku dapatkan alamatnya, Tanah Abang. Setelahcukup lama berputar-putar dan bertanya pada beberapa orang, ku temukan leleki itu. Deg! Jantungku seakan dicabut paksa pada tempatnya. Seseorang yang berbaju hijau di gang, lelaki gondrong yang sedang mabuk dan memeluk wanita setengah telanjang, itu bapakku?
Aku pergi segera dari tempat itu dengan penuh luka dihati. ku rasakan berat langkah kakiku, aku menggigit bibir menahan isak tangis. Inikah akhir pencariannku? Kondisi Indonesia memang sedang rusuh, banyak demo dimana-mana. Dan itu membuat Mom khawatir, hingga Mom dan Matt datang untuk menjemputku pulang.
DZIKIR-DZIKIR CINTA
1. Judul Buku :
DZIKIR-DZIKIR CINTA
2. Pengarang :
Anam Khoirul Anam
3. Penerbit :
Diva Press (Anggota IKAPI)
4. Tahun Terbit : 2008
5. Jumlah Halaman : 392 halaman
Rusli adalah seorang santri di pondok pesantren Al-Masnawiyyah milik Kiyai Mahfud yang terletak di Kampunkuning, dia berasal dari Jawa Timur tepatnya dari Kedungwangi. Dia adalah sesosok pemuda yang atletis, tampan, rambutnya lurus di atas bahu, berkumis tipis, tinggi tapi tak jangkung, memiliki sorot mata yang teduh. Rusli adalah seorang anak yatim, ayahnya meninggal sewaktu ia masih kecil dengan cara mengenaskan. Ayahnya memergoki ibunya berselingkuh dengan tetangganya. Karena tidak sanggup menerima kenyataan dan merasa terkhianati oleh cinta, maka ia memutuskan untuk tinggal di hutan dan akhirnya bunuh diri.
Rusli adalah santri baru di pondok pesantren Kiyai Mahfud, sebelumnya ia mondok di tempat Kiyai Muhsin yang kebetulan sahabat dari Kiyai Mahfud.
Suatu hari ia memergoki Subhan (teman sepondoknya) sedang asyik mengintip santriwati di pondok sebelah, yang merupakan pondok milik Gus Mu’ali. Berhubung jaraknya tidak terlalu jauh apalagi pondok Kiyai Mahfud berlantai dua maka semakin mudahlah proses pengintipan tersebut. Setiap kali terperegok Subhan hanya menjawab ia sedang mencari angin. Tetapi Rusli merasakan hal ganjil, karena setelah kejadian tersebut entah mengapa setiap malam Subhan selalu mengalami mimpi basah. Ternyata setelah di usut, Subhan memiliki amalan khusus yang diketahui sebagai “ngerogoh sukmo’ yaitu dimana jiwa bisa lepas dari jasadnya. Ilmu itu ternyata disalah-artikan oleh Subhan. Ilmu itu digunakan untuk mencari sasaran pelampiasan hasrat nafsu birahi. Ketika jiwanya terlepas, jiwanya hinggap di kamar santriwati dan terjadilah hal itu, sehingga keesokan harinya Subhan mandi basah. Dan anehnya santriwati yang sejak sore ia incar juga akan mengalami mimpi yang sama dan mandi basah pula.
Akhirnya semuanya terungkap saat Rusli menanyakan langsung kepada Subhan. Karena Rusli masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Subhan maka Subhan menantang Rusli untuk membuktikannya. Rusli akhirnya terhasut juga, namun hal itu ia lakukan hanya untuk membuktikan kebenarannya saja. Setelah melakukan kesepakatan, Subhan meminta Rusli untuk mencari sasaran dulu sebelum melakukan ritual itu. Tanpa disangka sore itu sorot mata Rusli tertuju pada santriwati yang baru saja keluar dari kamar mandi, rambut gadis itu basah kuyup habis keramas, lurus sebahu. Tampak segar, meski tampak dari jauh. Aura itu tak mampu membohongi kecantikan pada dirinya. Dan gadis itulah yang dijadikan sasaran.
Karena Rusli belum mempunyai ‘amalan’ dan juga belum mengamalkan ilmu tersebut maka Subhan hanya akan menyalurkan energi saja. Setelah itu ilmunya akan sirna dan akan lepas. Karena untuk memiliki ilmu itu harus tirakatan dulu selama tujuh hari dengan puasa mutih.
Tepat jam duabelas malam, maka dijalankanlah lelaku itu. Jiwa Rusli seperti melayang. Badannya terasa ringan seperti kapas dan ia bisa melihat tubuhnya sendiri. Ia berjalan ke arah asrama putri dan tubuhnya mampu menembus benda keras. Sesampainya di depan pintu asrama santriwati, ia mencari kesana kemari mencoba masuk dari kamar satu ke kamar yang lain. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah kamar dan melihat sesosok manusia yang terbaring lemah diatas ranjang. Gadis itu terlelap dalam mimpi dan dengusan nafasnya begitu tertata rapi.
Rusli pun memulai aksinya, ia melihat selimut yang dipakai gadis itu meningkap, menampakkan betis berkulit putih langsat. Terlintas dalam fikirannya sesuatu yang jalang, yang jelas menegangkan sesuatu yang teramat ia jaga. Ia tak tau harus memulai dari mana dan bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba gadis itu terbangun dan membuyarkan kegamangannya. Ia melangkah ke kamar mandi, dan dengan pelan Rusli mengikuti dari belakang. Aura kencantikannya tampak sempurna, gadis itu benar-benar memiliki rupa yang sangat cantik.
Gadis itu melangkah menuju pancuran dan mengambil wudhu, ia kembali ke kamar dan dengan khusu’nya ia melakukan ritual suci, Tahajjud. Setelah itu ia mengambil kitab Al-Qur’an. Syahdu suaranya dalam melafal Al-Qur’an. Dikeheningan itu suaranya seperti memecahkan sunyi. Membelah dan mengiris hati. Sungguh pemandangan yang memilukan hati Rusli. Lama Rusli menunggu gadis itu menyelesaikan ritualnya, hingga tanpa sadar bajunya basah dengan air mata.
Beberapa saat lagi subuh, gadis itu tetap khusu’ melapalkan Al-Qur’an. Tanpa sadar Rusli sangat menikmati keindahan suara gadis itu, suara itu sangat menyayat kalbunya. Baru pertama kali ia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika mendengarkan ayat-ayat suci dibacakan.
Adzan subuh berkumandang, Rusli tergagap dari lamunannya ketika suara Subhan memanggil. Rusli tersadar. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Subhan. Tetapi Subhan terus menanyakan perihal yang terjadi semalam, demi memuaskan rasa penasaran Subhan akhirnya Rusli berbohong. Jika rusli mau, mungkin ia akan menyalah-artikan ilmu tersebut. Tapi baginya tidak.
Setelah malam itu, akhirnya Rusli belajar ilmu tersebut dengan segala persyaratan yang telah disanggupinya. Entah ketagihan atau apa, tiap malam Rusli pun mulai melakukan ritual itu. Hanya gadis itu yang dijadikan sasaran lelakunya, gadis itu sangat memukau hatinya. Ia ingin sekali mendengarkan lantunan Al-Qur’an dari merdu suara gadis itu setiap malam. Ia sangat terpesona dengan kesempurnaan gadis yang belum juga ia kenali. Alasan itulah yang digunakan Rusli belajar ilmu tersebut.
Pada suatu hari Rusli dipanggil untuk menghadap Kiyai Mahfud, Kiyai Mahfud menyuruh Rusli mengajar Qiro’ah ditempat Gus Mu’ali atas permintaan Gus Mu’ali sendiri. Suaranya yang merdu dan lembut serta kefasihannya dalam mentartil Al-Qur’an menjadi alasan Kiyai Mahfud memilih Rusli untuk menggantikan Ustadz di pondok Gus Mu’ali yang sedang pulang kampung karena ingin menikah. Ia tak berani melawan perintah, maka ia menerimanya dengan ikhlas. Disaat itu pula Kiyai Mahfud memperkenalkan anaknya yang baru pulang dari pondok pesantren Trimurti, dia bernama Fatimah. Kiyai Mahfud menyuruh Fatimah untuk mengantarkan Rusli ke tempat Gus Mu’ali. Rusli dan Fatimah pun berangkat menuju pondok pesantren Gus Mu’ali. Dengan ngobrol ringan sebatas perkenalan akhirnya mereka sampai di tempat Gus Mu’ali. Gus Mu’ali mempersilahkan mereka masuk, dan Rusli menjelaskan maksud kedatangannya bahwa ia diutus Kiyai Mahfud menemui Gus Mu’ali. Perbincanganpun digelar. Gus Mu’ali menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan Qiro’ah yang dilakukan setiap malam selasa dan Rusli sudah bisa mulai mengajar keesokan malamnya. Kemudian Rusli pun pamit. Sebenarnya Rusli khawatir kalau Gus Mu’ali mengetahui tentang “ngerogoh sukmo” yang sering ia lakukan di kamar salah satu santrinya.
Keesokan harinya Kiyai Mahfud meminta tolong Rusli untuk mengantarkan Fatimah ke Rumah Sakit untuk membeli obat buat Bu Nyai, istri Kiyai Mahfud. Dipondok pesantren tersebut, Rusli seakan-akan sudah menjadi tangan kanan Kiyai Mahfud.
Selasa malam, Rusli menapaki jalan menuju pondok Gus Mu’ali. Hingga sampailah ia ke ruangan yang di dalamnya sudah berkerumun orang-orang. Rusli pun duduk. Gus Mu’ali memperkenalkan Rusli sebagai pengganti Ustadz Faiz yang mengajarkan Qiro’ah kepada santriwati. Kemudian prosesi perkenalanpun berlangsung, satu persatu yang ada di ruangan menyebutkan nama-nama mereka, Rusli tak bergeming ketika ia melihat salah satu santriwati menyebutkan nama ”Sukma” nama itu menggetarkan hatinya. Ternyata gadis yang selama ini menemani malam-malamnya bernama Sukma. Rusli tak menyangka akan dipertemukan dengan gadis itu, sungguh pertemuan pertama yang mempesona. Rusli pun benar-benar tak percaya ia hadir disana dengan segenap jiwa raga. Ada getaran yang tak mampu ia pahami dengan keterbatasan akalnya.
Suatu hari pondok pesantren Al-Masnawiyyah mengadakan acara haul pesantren. Dimana semua santri akan tampak sibuk mengurusi segala sesuatunya dan kegiatan formal dinon-aktifkan. Acaranya berlangsung meriah dan dihadiri Menteri Agama. Tiba-tiba muncul dari belakang panggung seorang santriwati yang memberikan sebuah amplop kepada Rusli. Gadis itu tidak memberitahukan dari siapa amplop itu, dia berkata bahwa Rusli akan mengetahui sendiri setelah membuka amplop tersebut.
Tercium parfum khas wanita dari amplop itu. Karena ia ditugaskan sebagai Qori’ maka ia tangguhkan dulu membaca isi surat tersebut. Setelah menyelesaikan tugasnya Rusli langsung ke kamarnya, membuka amplop surat dan membacanya. Surat itu dari seseorang yang menyimpan cinta dalam hatinya untuk Rusli, yang berisi ungkapan perasaan gadis itu. Gadis itu adalah Sukma. Sukma berkata dalam suratnya, agar lekas menemui Sukma setelah Rusli selesai membaca suratnya. Sukma ingin mendengar langsung jawaban dari Rusli.
Tampak dari bawah pohon akasia seorang santriwati melambaikan tangan memanggil Rusli. Dia bernama “Nikmah” sahabat dekatnya Sukma. Dia memberi tahukan bahwa Sukma menunggu Rusli di seberang jalan, dekat rumah yang berwarna biru. Rusli langsung melintas ke seberang jalan untuk menemui Sukma.
Acara seperti ini merupakan peluang tersendiri bagi santri maupun santriwati, mereka bebas dan tidak terkekang oleh peraturan-peraturan kepondok pesantrenan. Rusli dan Sukma duduk di bawah remang cahaya bulan. Senyuman Sukma begitu manisnya membuat denyut jantung Rusli berubah tak teratur. Baru pertama kali Rusli menyaksikan senyuman semanis itu terpancar dari wajah Sukma. Dengan segala keberanian akhirnya Rusli mampu menyatakan bahwa dia juga mencintai Sukma. Dengan gerak refleks akhirnya kedua tubuh itu berpeluk erat dengan butir-butir air mata kebahagiaan.Memang dari awal pertama Rusli menjadi Ustadz Qori’ di asrama putri, Sukma sudah menaruh hati pada ketampanan Rusli.
Hanya Nikmah saja di asrama itu yang menjadi teman berbaginya, Nikmah seperti saudara sendiri bagi Sukma. Sukma adalah seorang Mu’allaf. Sebelum ia memeluk Agama Islam, ia bernama Agenesia Pramitha Paula Jeany Mariana. Ayahnya adalah seorang pastor dan semua keluarganya adalah penganut Kristen Protestan. Butuh perjuangan bagi Sukma untuk menjadi seorang mu’allaf. Dari mulai di tentang oleh keluarganya, pengucilan hingga pemasungan. Bahkan Sukma di usir dari rumah. Namanya sekarang adalah Zahrotunnikmah Sukmalayli Habibi. Nama itu adalah pemberian dari Ibu Nikmah, Nikmah sendiri dan Kiyai yang pertama mengislamkannya. Karena keputusannya akhirnya Sukma pergi dari rumah dan tinggal di rumah Nikmah. Sampai akhirnya Sukma ikut ke pesantren dengan Nikmah.
Suatu hari Sukma tidak hadir dalam pelajaran Qiro’ah yang diajarkan Rusli. Ternyata kata Nikmah, Sukma pulang kampung karena mamanya sakit. Rusli hanya menitip pesan pada Nikmah bahwa besok ia akan ke Jombang mengantar Fatimah, Putri Kiyai Mahfud. Dia juga bilang bahwa dia sangat merindukan Sukma.
Keesokan harinya Rusli mengantar Fatimah dengan mengendarai bus. Diperjalanan Rusli bercerita tentang pengalaman kisah cintanya. Sepanjang perjalanan mereka menghabiskan waktu dengan canda dan tawa, hingga akhirnya terlelap. Tanpa sadar kepala Fatimah menyandar di bahu Rusli dan tangannya melingkar pada tubuh Rusli. Sesampainya di terminal Jombang, Rusli terkejut ketika tubuhnya dipeluk erat oleh Fatimah.
Sesampainya ditempat tujuan, mereka langsung menemui Kiyai Lathif. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya adalah diutus Kiyai Mahfud untuk mengantarkan Fatimah, maka Rusli pamit. Setelah kejadian itu Fatimah tidak dapat menepis bayangan Rusli. Ia merasakan perasaan aneh pada Rusli.
Ketika Rusli menuju pondok Kiyai Mahfud, ia terhenti karena mendengar suara yang sangat ia rindukan memanggilnya. Suara Sukma memanggilnya. Sukma baru datang dari Bandung. Mendengar penuturan Sukma, ternyata mamanya telah meninggal. Rusli dengan mesra menggenggam bahu dan mendekap tubuh Sukma. Sambil berkaca-kaca ia membisikan kata di telinga kekasihnya. Menguatkan kekasihnya, dan setitik ciuman pun teringgal.
Didalam kamar, Fatimah masih termenung sepi. Cinta telah merasuk dalam jiwanya. Ia telah jatuh cinta kepada Rusli. Tiba-tiba Kiyai Lathif meminta Fatimah untuk menemuinya. Tanpa disangka ternyata Kiyai Lathif meminta Fatimah untuk menjadi istrinya, istrinya Kiyai Lathif telah meninggal setahun yang lalu karena kanker otak. Mendengar itu, Fatimah hanya terdiam dan meminta waktu untuk memikirkannya. Lama Kiyai Lathif menunggu, tapi belum ada jawaban dari Fatimah. Maka ia datang ke Kampungkuning menyampaikan niatnya kepada Kiyai Muhfud. Tetapi Kiyai Mahfud pun belum bisa memberi keputusan, segala keputusan ada ditangan Fatimah.
Kiyai Mahfud mendatangi Fatimah dan menanyakan perihal lamaran Kiyai Lathif. Akhirnya Fatimah mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada Rusli. Dari penuturan putrinya tesebut, Kiyai Mahfud memanggil Rusli. Kiyai Mahfud menanyakan perihal perasaannya terhadap Fatimah. Dari berbagai pertanyaan Rusli hanya bisa terdiam, ia hanya tertunduk. Ia takut jika ia menolak maka akan mendapat murka dan tidak mendapat barokah, tentunya juga akan melukai perasaan orang yang ia hormati. Rusli terhimpit oleh keadaan istiadat yang mengikat erat. Rusli tidak memiliki daya selain terdiam saat dijodohkan dengan Fatimah. Dan diamnya dianggap sebagai kesediaan menerima tawaran Kiyai Mahfud. Terasa ada petir yang menyambar kepalanya, nafasnya sesak dan serasa ingin pingsan.
Dipagi buta, Sukma menemukan sebuah surat yang tergeletak di depan pintu, surat itu dari Rusli. Surat itu berisi tentang ungkapan hati Rusli dan hal yang terjadi pada Rusli, bahwa Rusli akan menikah dengan Fatimah. Tetapi meskipun demikian, cinta Rusli akan selalu tersimpan untuk Sukma. Seperti petir menyambar saat Sukma membaca surat itu, ia tak kuasa menahan perih dan derai air mata. Ia tertunduk lemah ditepi ranjang dan ia pun pasrah. Sampai kanpanpun ia akan menggenggam cintanya.
Setelah kejadian itu, Sukma menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada sang pencipta, ia menjadi seorang Sufi dan melupakan urusan duniawi yang selalu membuatnya resah.
Sudah satu tahun Rusli menikah dengan Fatimah, tetapi hatinya selalu untuk Sukma. Sesaat kemudian Fatimah datang dan memberitahukan bahwa dia positif hamil. Kabar itu memang membahagiakan bagi Rusli tapi ia justru merasa menghianati cintanya pada Sukma. Tiba-tiba Fatimah meminta maaf kepada Rusli, karena dia telah merebut Rusli dari Sukma. Sebenarnya sudah sejak awal Fatimah tahu hubungan Rusli dengan Sukma. Untuk menebus kesalahannya, Fatimah rela apabila Rusli mau menikahi Sukma. Dan meminta Rusli kembali kepada Sukma.
Suatu hari, saat tasyakuran tujuh bulanan kehamilan Fatimah, Rusli menitip pesan pada Nikmah agar disampaikan pada Sukma bahwa keesokan harinya Rusli ingin bertemu, Ba’da Subuh.
Dalam pertemuan itu, keduanya terpaku dan tak ada ucap yang menghiasi pertemuan mereka. Keduanya kembali tanpa ada yang di bicarakan.
Semenjak pertemuan itu Rusli menjadi pemurung. Tak ada semangat dalam hidupnya dan ia selalu gelisah. Baik Rusli maupun Sukma, keduanya menjadi kurus kering. Fatimah pun sadar dengan apa yang terjadi pada suaminya. Ia berdo’a pada Tuhan, dan ikhlas bila suaminya kembali pada Sukma.
Akhirnya bayi itupun lahir, tapi tanpa ditemani oleh ibunya. Fatimah meninggal dunia. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Mahesarumi Tegar Halilul Lintang Sejagad Elfatimi. Dan sejak kepergian Fatimah, Rusli menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi anaknya. Ia makin kurus kering.
Gus Mu’ali datang menemui Rusli. Gus Mu’ali merupakan Kepala Daerah (Bupati) dan sekaligus Kiyai di pondok pesantren tempat Sukma menuntut ilmu. Gus Mu’ali mengetahui bahwa sebelum Rusli menikah dengan Fatimah, Rusli mencintai Sukma. Sehingga dia memberitahu Rusli bahwa Sukma masih mencintainya. Gus Mu’ali tahu karena Sukma sering datang meminta bimbingan dan berkonsultasi tentang dirinya dengan Rusli. Gus Mu’ali merasa iba terhadap Sukma. Sukma sangat mendertita bahkan tubuhnya semakin kurus.
Setelah perbincangannya dengan Rusli, Gus Mu’ali akhirnya pergi menemui Kiyai Mahfud. Dari penjelasan Gus Mu’ali, Kiyai Mahfud merasa bersalah dan ia meminta Rusli menikah dengan Sukma sebagai permintaan maaf karena telah menghancurkan hubungan Rusli dengan Sukma. Meskipun itu terjadi diluar kesengajaannya.
Di depan Kiyai Mahfud dan Gus Mu’ali, Rusli dan Sukma saling berpelukan. Keduanya saling berkaca-kaca, menahan haru bercampur bahagia yang teramat ngilu dirasakan. Tubuh mereka melemah, kekuatan cinta telah menguras jiwanya. Hingga akhirnya mereka terjatuh tak sadarkan diri. Gus Mu’ali dan Kiyai Mahfud panik, baru pertama kali mereka menyaksikan hal seperti itu.
Baru setengah tahun Rusli menjalin rumah tangga dengan Sukma, Rusli meninggal dalam sebuah kecelakaan setelah pulang dari pengajian. Ketika itu Sukma telah mengandung. Karena merasa syok oleh sebab suaminya meninggal, maka Sukma jatuh sakit. Hingga akhirnya Sukma dan jabang bayinya pun meninggal dunia.
Setahun kemudian, Asrul sahabat Rusli bermimpi. Di dalam mimpinya ia melihat tiga orang berdiri dihadapannya. Tiga orang itu tak lain adalah Rusli, Sukma dan Fatimah. Rusli berkata bahwa mereka telah bersatu di alam mereka dan hidup bahagia. Rusli meminta Asrul untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada Kiyai Mahfud. Rusli juga meminta untuk menyampaikan salamnya pada Kiyai Mahfud dan Gus Mu’ali. Selain itu Rusli juga meminta agar Asrul membantu Kiyai Mahfud dalam mengasuh putranya (Lintang).
Berkat bimbingan dan juga didikan dari kakeknya (Kiyai Mahfud), kini Lintang menjadi anak yang telaten, ulet dan cerdas.
Judul
Pengarang : Zaenal Radar T.
Penerbit : Lingkar Pena
Tahun terbit : 2008
Jumlah Halaman : 228 hlm
Ayyesha adalah seorang perempuan solehah.,ia sudah menjadi yatim piatu sejak berumur 9 tahun. Ayyesha menumpang pada keluarga bibinya hingga lulus SMA.Setelah lulus, ia bekerja freelance di sejumlah media untuk membiayai kuliahnya. Sejak SMA Ayyesha memang suka menulis di majalah-majalah remaja ,dari honor menulis itulah ia bisa menghidupi dirinya. Karena merasa tak enak terus-terusan menumpang, akhirnya ia memilih untuk mengontrak rumah. Namun sayangnya, ia tak berhasil menyelesaikan kuliahnya karena harus menolong keluarga bibinya yang tiba-tiba menbapat musibah. Pamanya yang seorang supir mendapat kecelakaan sehingga cacat seumur hidup. Sejak saat itu hasil kerjanya ia sisihkan untuk membantu keluarga bibinya, dan membiayai keponakanya sekolah.
Pertemuanya dengan Tomy terjadi begitu saja. Tomy adalah teman satu kampusnya. Mereka sering bertemu di perpustakaan kampus, sebuah pertemuan yang pada akhirnya membuahkan cinta. Karena keduanya memiliki banyak kecocokan, akhirnya Tomy memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Padahal saat itu Tomy belum selasai kuliah. Hal itulah yang membuat kedua orang tua dan saudara-saudara Tomy berang. Mereka ingin Tomy Jangan menikah dulu sebelum menyelesaikan kuliahnya. Di samping itu, menurut mereka Ayyesha juga tidak pantas menjadi pendamping hidup Tomy. Namun Tomy tak mempedulikan gubrisan mereka. Ia tetap bersikeras menikah, sambil melanjutkan kuliah.
Ketika itu Ayyesha pun tak bisa mengelak, karena ia sendiri tak mau terlalu lama pacaran. Akhirnya pernikahan itu pun berlangsung dan membuahkan seorang bayi manis yang mereka beri nama Didi. Mereka hidup di tengah keluarga besar Tomy. Ayah Tomy adalah seorang pengusaha sukses. Saat ini perusahaannya dipegang oleh anak tertuanya yang bernama Sandi. Sementara itu anak-anak perusahaanya dirercayakan pada anak-anaknya yang lain yaitu Dani, Hendri, Risma dan Mayang.
Pertemuanya dengan Tomy terjadi begitu saja. Tomy adalah teman satu kampusnya. Mereka sering bertemu di perpustakaan kampus, sebuah pertemuan yang pada akhirnya membuahkan cinta. Karena keduanya memiliki banyak kecocokan, akhirnya Tomy memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Padahal saat itu Tomy belum selasai kuliah. Hal itulah yang membuat kedua orang tua dan saudara-saudara Tomy berang. Mereka ingin Tomy Jangan menikah dulu sebelum menyelesaikan kuliahnya. Di samping itu, menurut mereka Ayyesha juga tidak pantas menjadi pendamping hidup Tomy. Namun Tomy tak mempedulikan gubrisan mereka. Ia tetap bersikeras menikah, sambil melanjutkan kuliah.
Ketika itu Ayyesha pun tak bisa mengelak, karena ia sendiri tak mau terlalu lama pacaran. Akhirnya pernikahan itu pun berlangsung dan membuahkan seorang bayi manis yang mereka beri nama Didi. Mereka hidup di tengah keluarga besar Tomy. Ayah Tomy adalah seorang pengusaha sukses. Saat ini perusahaannya dipegang oleh anak tertuanya yang bernama Sandi. Sementara itu anak-anak perusahaanya dirercayakan pada anak-anaknya yang lain yaitu Dani, Hendri, Risma dan Mayang.
Dari semua saudara saudara Tomy yang telah berkeluarga dan memiliki anak, hanya Risma dan hendri yang belum menikah. Risma dilangkahi oleh dua adiknya, Mayang dan Tomy. Mayang kakak Tomy yang tinggal di sebuah apartemen, baru saja memiliki anak dari hasil perkawinannya dengan seorang dokter. Mayang menikah 3 bulan setelah pernikahan Tomy. Hari pernikahannya sangat meriah, tidak seperti pernikahan Tomy dan Ayyesha yang tidak dirayakan sama sekali. Dialah kakak yang paling dekat dengan Tomy. Meski pada awalnya ia juga tidak setuju dengan hubungan Tomy dan Ayyesha, namun ia tidak seperti kakak-kakak Tomy yang lain.
Berbeda dengan Mayang, Risma sangat membenci Tomy dan Ayyesha. Ia selalu mengungkit perkawinan adik bungsunya itu. Ia mengaku malu memiliki adik ipar seperti Ayyesha. Meski mereka hidup satu atap, Risma belum pernah menyempatkan diri untuk bertemu dengan istri dan anak adiknya itu. Begitu pula yang lain, ayahnya, ibunya, juga Hendri tak pernah mau ambil peduli.
Hal itulah yang membuat Tomy tidak tahan hidup di tengah-tengah keluarganya. Sehingga ia memutuskan untuk hidup berpisah, mengurus anak dan istrinya sendiri. Mereka pun pindah ke rumah kontrakan petak-petak yang sempit. Sejak saat itu mereka hidup dengan kondisi yang pas-pasan, karena Tomy tidak bisa menggunakan fasilitas orang tuanya lagi.Tapi mereka tetap berusaha untuk memperbaiki hidupnya. Mau tidak mau Tomy harus mencari kerja untuk membiayai hidup anak dan istrinya. Hari demi hari mereka jalani di rumah kontrakan itu baik suka maupun duka, Bersama dengan tetangga barunya.
Keluarga Tomy sibuk mencari keberadaannya, tapi tak ada satu pun yang menemukan Tomy. Sampai suatu saat Ny. Kartamiharja jatuh sakit karena kepergian Tomy. Kabar itu pun sampai kepada Tomy melalui temannya. Tomy dan Ayyesha pun dengan segara menjenguk Ibu Tomy dengan membawa Didi. Ny. Kartamiharja senang sekali mereka datang. Suasananya tidak seperti dulu lagi, Semua anggota keluarga menyambutnya dengan haru, kecuali Risma yang memang tidak muncul.
Tomy dan Ayyesha pun pamit pulang stelah seharian di sana, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Terutama Ayyesha yang harus menyelesaikan naskah cerpennya. Sedangkan Didi ditahan oleh kakek dan neneknya. Sesampainya di kontrakan mereka langsung tidur. Paginya mereka bangun kesiangan. Usai shalat subuh Ayyesha segera menuntaskan tulisannya.
Pagi itu tidak seperti biasanya, Suasana kontrakan terasa sepi sekali. Tidak lama kemudian datang Pak H. Sarkih pemilik kontrakan mengabarkan bahwa Bang Amsir kecelakaan dan tidak tertolong lagi. Semua penghuni rumah kontrakan sudah berada di runah sakit sejak kermarin sore. Mereka pun langsung beragkat ke rumah sakit. Jenazah Bang Amsir belum diperbolahehkan pulang karena masalah administrasi. Setelah dana terkumpul dari hasil sumbangan semua penghuni kontrakan, jenazah pun segera dibawa pulang kemudian dimakamkan. Usai pemakaman Tomy dan Ayyesha menjemput Didi ke rumah orang tuanya.
Keesokan harinya keluarga Kartamiharja dikejutkan dengan meninggalnya Risma akibat minum obat serangga di dalam kamarnya. Semua panik karena tidak ada yang tau penyebab Risma mengakhiri hidupnya. Tomy dan Ayyesha sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Bergegas mereka pun pergi ke rumah orang tuanya untuk melayat. Kedatangan Tomy langsung disambut oleh peluk cium anggota kelurga. Setelah itu Tomy langsung bersimpuh di depan jenazah kakaknya, diikuti oleh Ayyesha. Keharuan begitu mencekam melihat apa yang dilakukan oleh Tomy. Seluruh anggota keluarga benar-benar takjub pada Tomy dan Ayyesha.
Kehadiran Tomy dan Ayyesha menjadi penyejuk bagi mereka. Manakala Tomy dan Ayyesha melantunkan ayat suci AL-Quran, mereka seolah tergugah untuk merubah pola pikir yang selama ini mereka anut. Mereka mulai berfikir, bahwa harta yang melimpah tidak selamanya menjadi standar ukuran kebahagiaan seseorang. Disisi lain, kebersamaan menjadi sutu hal yang tak boleh disisihkan.
Setelah pemakaman selesai Tomy dan Ayyesha pun kembali kerumah kontrakannya.
ai aliyani
BalasHapusBanyak pelajaran yang dapat diambil dari novel-novel diatas. gunakanlah waktu luang kita dengan hal-hal yang bermanfaat.
Yeni
BalasHapusBanyak pesan positif yang disampaikan dalam cerita-cerita di atas. Hal positif tersebut dapat kiya ambil dan di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
yully... puisi + sinopsis novelnya bagus-bagus, sarat makna dan menarik untuk dibaca.
BalasHapus